INGAT COVID, AYO PAKAI MASKER

Selain Sebuah Perkara Beranjak Keranah Hukum, Bhabinkamtibmas Dapat Menyelesaikannya Di Desa Binaan

0

Tribratanewsrestabandaaceh.com – Mengunjungi masyarakat desa binaan seakan menjadi tradisi, terutama anggota Bhabinkamtibmas, yang menjadi ujung tombak Polri dalam menciptakan situasi kondisi kamtibmas yang kondusif, Bhabinkamtibmas juga dapat menyelesaikan problema yang melanda di desa binaannya.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto, SH kepada tribratanewsrestabandaaceh.com mengatakan kepada seluruh jajaran harus menindak lanjuti dengan menerjunkan para ujung tombak desa yaitu para Bhabinkamtibmas untuk selalu dekat dengan masyarakat.

“Bhabinkamtibmas merupakan ujung tombak Polresta yang bertugas di Polsek jajaran, maka dengan cara sambang inilah memberikan pesan-pesan  kamtibmas pada warga yang menjadi binaan dengan harapan selalu tercipta situasi dan kondisi kamtibmas yang kondusif” ujar Trisno Riyanto.

Menurut Kapolresta, bahwa selain menyerap informasi dan silaturahmi juga upaya Polri untuk selalu dekat dengan  masyarakat.

“Selain menyerap informasi dan silaturahmi juga upaya Polri untuk selalu dekat dengan  masyarakat dan yang lebih penting bahwa kehadiran Polri di tengah – tengah masyarakat harus bisa memberikan rasa aman dan nyaman,” ucap Kapolresta Banda Aceh.

Dalam Peraturan Perundang-Undangan, gampong sebagai entitas adat diberikan kewenangan dalam penyelesaian sengketa dan perselisihan yang terjadi wilayah gampong masing-masing. Namun, kewenangan tersebut dibatasi dalam 18 hal. Berdasarkan Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Istiadat Gampong, ada 18 jenis sengketa/perselisihan yang dapat diselesaikan secara adat.

“Adapun yang dapat diselesaikan oleh Bhabinkamtibmas didesa binaanya antara lain Perselisihan dalam rumah tangga, Sengketa antara keluarga yang berkaitan dengan faraidh, Perselisihan antar warga, Khalwat meusum, Perselisihan tentang hak milik, Pencurian dalam keluarga  (pencurian ringan) , Perselisihan harta sehareukat dan Pencurian ringan” Ujar Kapolresta.

Selain yang disebutkan diatas, Kapolresta mengatakan, pencurian ternak  peliharaan, Pelanggaran adat tentang ternak,  pertanian, dan hutan, Persengketaan di laut, Persengketaan di pasar, Penganiayaan ringan, Pembakaran hutan (dalam skala kecil yang merugikan komunitas adat), Pelecehan, fitnah, hasut, dan pencemaran nama  baik, Pencemaran lingkungan (skala ringan), Ancam-mengancam  (tergantung dari jenis ancaman), dan Perselisihan-perselisihan lain yang melanggar adat dan adat istiadat.

Share.

Leave A Reply